https://journal.nabest.id/index.php/ILJ/issue/feedIslamic Law Journal2026-05-07T10:06:39+07:00Open Journal Systems<div id="journalDescription"> <p style="text-align: justify;"><strong>Islamic Law Journal (ILJ)</strong> adalah jurnal yang mengkaji tentang hulum islam. Fokus dan ruang lingkup <strong>Islamic Law Journal (ILJ)</strong> mencakup topik-topik berikut: Hukum Islam sebagai Hukum yang Positif, Hukum Keluarga Islam, Hukum dan Ilmu Sosial, Hukum Tata Negara (Fiqh Siyasah), Hukum Administrasi, Hukum Pidana ( Fiqh Jinayah) dan Kriminologi, Fikih, Observatorium Astronomi Islam, Bidang Ibadah Fiqh. Islamic Law Journal (ILJ) terbit 2 kali dalam 1 tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli.</p> </div> <table style="width: 100%;" border="0" width="100%" rules="none"> <tbody> <tr> <td style="width: 25.4282%;" width="190" height="100"><img src="https://journal.nabest.id/public/site/images/bigboss/mceclip0-e3bcf93b517db127c83274b521f9e16d.jpg" /></td> <td style="width: 74.4401%;"> <table class="data" style="height: 257px; width: 100%;" border="0" width="100%"> <tbody> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>Journal Title</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%"><strong>Islamic Law Journal (ILJ)</strong></td> </tr> <tr style="height: 23px;" valign="top"> <td style="height: 23px;" width="30%"><strong>Subjects</strong></td> <td style="height: 23px;">:</td> <td style="height: 23px;" width="70%"><strong>ilj</strong></td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>Language</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%">Indonesia and English</td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>e-ISSN</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%"><strong>2985-9727</strong><strong> (Online)</strong></td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>p-ISSN</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%"><strong>2986-0431 (Prin)</strong></td> </tr> <tr style="height: 36px;" valign="top"> <td style="height: 36px;" width="30%"><strong>Frequency</strong></td> <td style="height: 36px;">:</td> <td style="height: 36px;" width="70%">Januari,dan Juli</td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>Publisher</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%"><a title="WEB" href="https://web.nabest.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>NAJAH BESTARI</strong></a></td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>DOI</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%">-</td> </tr> <tr style="height: 36px;" valign="top"> <td style="height: 36px;" width="30%"><strong>Citation Analysis</strong> </td> <td style="height: 36px;">:</td> <td style="height: 36px;" width="70%"><a href="https://scholar.google.com/citations?user=LGFEnskAAAAJ&hl=en&authuser=1" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a></td> </tr> <tr style="height: 36px;" valign="top"> <td style="height: 36px;" width="30%"><strong>Editor-in-chief</strong></td> <td style="height: 36px;">:</td> <td style="height: 36px;" width="70%"><strong>Dr. Kholid Hidayatullah, M.H</strong></td> </tr> <tr style="height: 18px;" valign="top"> <td style="height: 18px;" width="30%"><strong>Email</strong></td> <td style="height: 18px;">:</td> <td style="height: 18px;" width="70%"><a href="mailto:ahmadlisin1988@gmail.com">kholidhidayat.fai@gmail.com</a> </td> </tr> </tbody> </table> </td> </tr> </tbody> </table>https://journal.nabest.id/index.php/ILJ/article/view/1008PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK PASCA PERCERAIAN: TINJAUAN HUKUM KELUARGA ISLAM2026-05-03T05:57:00+07:00Maylyndha Marlina Lestarimaylyndha39@gmail.com<p>Dalam praktik di masyarakat dan kecenderungan putusan pengadilan, hak asuh anak (<em>hadhanah</em>) pasca perceraian seringkali secara otomatis jatuh ke tangan ibu, terutama bagi anak yang belum <em>mumayyiz</em>. Hal ini sering kali menyebabkan peran ayah menjadi terpinggirkan atau sekadar dibatasi pada fungsi pemberi nafkah material semata. Padahal, secara psikologis, anak tetap membutuhkan kehadiran figur ayah (<em>father involvement</em>) untuk perkembangan identitas dan emosionalnya, meskipun orang tua telah berpisah. Penyajian tulisan ini didasarkan pada analisis data kepustakaan dengan model analisis deskriptif. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa Hukum Keluarga Islam di Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), menegaskan bahwa biaya pemeliharaan anak menjadi kewajiban ayah meskipun hak asuh berada di pihak ibu. Namun, tinjauan Hukum Keluarga Islam kontemporer mulai menekankan bahwa tanggung jawab ayah tidak berhenti pada aspek finansial. Konsep kemaslahatan anak (<em>al-maslahah al-fudla li al-thifl</em>) menuntut adanya peran ayah yang lebih aktif dalam bimbingan moral dan agama agar anak tidak kehilangan orientasi pasca perceraian</p>2026-01-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Islamic Law Journalhttps://journal.nabest.id/index.php/ILJ/article/view/1017ANALISIS TERHADAP FENOMENA PERNIKAHAN LUAR NEGERI UNTUK MENGHINDARI REGULASI: TINJAUAN YURIDIS DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM2026-05-07T10:06:39+07:00Dwi Joko Rahmadidwijokorahmadi01@gmail.com<p>Pernikahan merupakan salah satu peristiwa hukum paling krusial dalam siklus hidup manusia yang melibatkan dimensi sakral (keagamaan) sekaligus dimensi administratif (kenegaraan). Di Indonesia, legitimasi suatu pernikahan diatur secara ketat melalui Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Pernikahan yang sah di luar negeri tidak serta-merta tercatat dalam database kependudukan Indonesia. Pasangan tersebut wajib melakukan pelaporan administratif agar hak-hak keperdataannya terlindungi di dalam negeri. para ulama kontemporer sepakat bahwa pencatatan pernikahan adalah sebuah kewajiban berdasarkan metode <em>Maslahah Mursalah</em><em>.</em> Penyajian tulisan ini didasarkan pada analisis data kepustakaan dengan model analisis deskriptif. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa Keputusan untuk melangsungkan pernikahan di luar negeri demi menghindari regulasi domestik tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Keabsahan perkawinan tersebut sering kali memicu ambiguitas hukum, konflik yurisdiksi, dan ketidakpastian perlindungan hukum terhadap hak-hak keperdataan istri maupun anak yang dilahirkan. Ketika pasangan tersebut kembali ke Indonesia, mereka dihadapkan pada kewajiban pelaporan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).</p>2026-01-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Islamic Law Journal